(Gerakan Follow Up Kelas Inspirasi Zona SD 2 Talun Ponorogo)

Sidik Nuryanto

Dosen Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Kelas inspirasi sebagai bentuk kegiatan sosial yang mewadahi para relawan yang ingin berbagi inspirasi kepada anak setingkat sekolah dasar. Kegiatan ini dilakukan selama satu hari yang mana para relawan pengajar menyampaikan materi tentang profesinya. Dengan bantuan relawan fasilitator dan relawan dokumentator membuat acara tersebut semakian menarik dan terkonsep dengan baik. Kegiatan seperti ini memang perlu digerakkan secara masif dan berkelanjutan. Mengingat banyak manfaat yang diambilnya mulai dari pihak sekolah, orangtua maupun anak. Bagi anak kegiatan tersebut tentunya sangat menarik bagi anak karena mereka dapat mengenal tentang beragam prosesi yang mungkin belum pernah dijumpai sebelumnya. Dengan kehadiran relawan pengajar minimal mereka mengetahui tentang profesi dan cara kerjanya. Lebih dari itu, mereka dapat berharap memiliki cita-cita yang sama sesuai dengan bakat dan kecerdasannya. Bagi guru adalah bahwa belajar itu tidak harus dilakukan di dalam kelas, namun dapat berorientasi pada pengenalan materi secara langsung. Dapat dikatakan guru dapat menambah referensi tentang model pembelajarannya. Guru semakin paham bahwa belajar dengan sekedar teori saja, ibaratnya seperti bank data yang tersimpan di dalam memori anak, sedangkan mereka belum mengetahui tentang aplikasinya. Dengan belajar berbasis pengalaman atau langsung anak semakin paham tentang arah dan orientasi dari keilmuan yang mereka pelajari. Bagi orangtua dapat merubah paradigmanya bahwa kecerdasan anak itu beragam dan tidak berpusat pada soal kemahiran hitungan dan membaca. Lebih dari itu ada kecerdasan bahasa, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, naturalistik, musik, spasial, dan eksistensial

Rabu, 4 Januari 2017 pasukan relawan dari SD N 2 Talun Ponorogo kembali ke zona inspirasi untuk kembali menyalakan mimpi anak negeri. Ini sebagai bentuk follow up dari kegaiatan hari inspirasi yang dilaksanakan pada tanggal 17 Desember 2016 kemarin. Meskipun belum ada satu bulan, namun keinginan kuat untuk berbagi dari para relawan harus segera direalisasikan. Pertimbangannya para relawan telah menyepakati untuk dilaksanakan secara lebih awal. Mengingat domisili yang lumayan jauh dan ada agenda masing-masing makanya niat baik tidak bisa ditunda lagi. Pertimbangan lain berdasarkan pengalaman di kelas inspirasi lain sebenarnya juga ingin mengadakan kegiatan serupa, namun terkadang hanya sekedar wacana belaka. Sekedar informasi bahwa relawan pengajar terdiri dari kak Arif selaku mekanik, kak nesser sebagai analisis bisnis, kak Yeni profesi asuransi BUMN, kak Sidik profesi dosen, dan kak Niken profesi wartawan. Relawan fasilitator ada kak Zuldiana, kak Farid, kak Dayat, kak Tika. Sedangkan relawan dokumentator ada kak Febby, kak Well, dan kak  Fadilla.

 

Bentuk kegiatan yang dilakukan saat kembali ke SD 2 Talun dintaranya penyuluhan cara gosok gigi, cuci tangan, aneka game, nonton film serta mendongeng. Kali ini kegiatan dilakukan secara serentak semua kelas dan berpusat di ruang aula sekolah. Hal ini dimaksudkan dalam pemberian materi kepada para siswa. Mengingat personil relawan kami yang hadir cuma terbatas yaitu kak Zuldiana, kak Sidik, kak dayat, kak Fadilla, dan kak Farid. Tetapi kakak yang belom hadir tetap mendukung sepenuhnya kegiatan ini, karena kami tim Solid. Kegiatan dimulai pada pukul 08.00 dengan pembukaan yang dipimpin oleh kak Zuldiana. Mengajak para siswa untuk berdoa dan tidak lupa ice breaking sebagai pencair suasana. Memutar memori anak kembali tentang nama-nama relawan yang pernah hadir saat hari inspirasi kemarin. Kak Fadila selaku lulusan Bidan menghandel acara sebagai pemateri praktek gosok gigi dan cuci tangan yang benar. Dengan bantuan video tutorial semakin menambah antusiasme anak untuk segera mempraktekkannya. Mengingat anak-anak di sana mayoritas giginya pada keropos sehingga muncullah ide tersebut. Bayu sebagai perwakilan dari murid yang diajak kak Fadilla untuk mempraktekkannya. Tidak berhenti disitu anak-anak semuanya langsung diajak untuk praktek serentak dihalaman sekolah. Dengan berbekal sikat dan pasta gigi yang diberikan relawan, semangat untuk mengikuti arahan pemandu mulai dari berkumur, menuangkan pasta gigi, menggosok bagian depan, dalam, menggosok lidah hingga berkumur. Begitu pula dengan cuci tangan yang dipraktekkan bersama, dengan diiringi lagi-lagu.

 

Masuk pukul 09.00 Kak sidik mulai memegang kendali acara. Anak-anak diajak untuk bermain tanpa alat di halaman sekolah. Ada tiga permainan yang pertama “tepuklah jika” yaitu permainan tepuk tangan saat benda dilemparkan. Kak sidik melemparkan botol dan saat dalam posisi benda diatas, anak harus bertepuk tangan. Kedua “aku paling panjang” yaitu pemainan dengan bergandengan membentuk formasi paling panjang dengan menggunakan semua benda yang ada di tubuhnya. Ketiga “ikuti aku” ialah permainan konsentrasi dengan mengikuti perintah dari instruktur mulai dari lompat kanan, kiri bahkan berlawan dengan instruksi pemandu.

Pada pukul 09. 20 melihat wajah anak sepertinya telah lelah, makanya mereka diminta untuk istirahat. Pada saat itu anak diputarkan tentang video rekaman saat hari inspirasi kemarin. Mereka sangat senang ketika dirinya ditampilkan dalam video tersebut. Saat melihat gambar yang unik, anak langsung bersorak. Seperti halnya ada anak yang menangis dalam tayangan video, serentak mereka tertawa terpingkal-pingkal. Mereka begitu serius yang mana dirinya pasti menunggu gambarnya ada di dalam video tersebut. Tayangan video membuka kembali ingatan anak, karena ada kuis untuk menebak siapa nama relawan yang muncul. Secara serentak muncul jawaban “itu kak Arif, yang pekerjaannya mengendarai alat berat. “Itu potonya kak Dayat yang selalu membawa kamera, (sambil menunjuk orangnya). Adapun acara tetap berlangsung dan tak terasa sudah pukul 10.00. Tiba saatnya kak Sidik Nuryanto menyampaikan dongeng kepada anak-anak. Kali ini judul dongengnya “ Alfa katanya bodoh”. Saat pembukaan beliau ajak anak-anak untuk bercanda ria mulai dari pengenalan, salam maupun game tebak suara. Saat anak sudah mulai nyaman, isi cerita mulai disampaikan dengan kombinasi suara, variasi mimik, dramatisasi adengan, maupun olah vokal. Hal tersebut untuk menghindari efek bosan saat bercerita. Ceritanya mengkisahkan tentang Alfa yang dibilang gurunya sebagai anak bodoh karena banyak bertanya yang tidak masuk akal, sehingga ia harus dikeluarkan dari sekolahnya. Tidak ada sekolah yang mau menerima Alfa hingga akhirnya ia belajar bersama orangtuanya di rumah. Karena ia anak rajin makanya ia tidak lelah untuk belajar, hingga akhirnya ia mampu menciptakan bolam lampu. Itulah yang dikenal sebagai bapak pencipta bolam lampu Thomas Alfa Edison.

 

Menginjak pukul 11.00 runtutan acara sudah menjelang akhir dan mempersilahkan anak, guru dan relawan bergabung. Acaranya adalah penyerahan kenang-kenangan dari pihak relawan kepada sekolah dan siswa. Kenang-kenangan yang diberikan kepada sekolah berupa dokumentasi foto saat hari inspirasi yang diwakili kepala sekolah. Adapun untuk siswa berupa seperangkat alat tulis (pensil, rautan, bolpoin, wadah pensil) dan stiker. Pihak sekolah menyampaikan ucapan terimakasih kepada para relawan yang telah menyelenggarakan kegiatan ini. Bapak kepala sekolah juga mengiyakan bahwa pembelajaran yang sebenarnya juga seperti yang dipakai kelas inspirasi. Yaitu belajar sambil melihat, memegang dan melakukan karena membuat anak semakin paham. Seperti itu yang dicontohkan dalam desain kurikulum 2013. Harapan pihak sekolah semoga silaturahmi yang sudah terbangun ini tetap berjalan selamanya, dan mendoakan semoga ikhtiar dari para relawan mendapat balasan dari Tuhan yang Maha Esa. Sebagai penutup tidak lupa kami berfoto bersama semua dewan guru, anak-anak dan relawan.

 

Berbicara tentang gerakan follow up kelas inspirasi, sebenarnya ini tidak menjadi bagian dari kelas inspirasi. Gerakan tersebut secara sukarela diberikan kepada para relawan yang memang memang menghendaki. Bagi mereka yang menghendaki tentunya beranggapan bahwa sehari belum cukup untuk menginspirasi. Saat para relawan terjun sehari ke SD selain memberi inspirasi, tentunya akan mengamati keadaan sekolah, lingkungan, maupun masyarakatnya. Mulai dari keadaan bangunan sekolah, kondisi anak, lingkungan geografis, hingga masyarakat sekitar. Di lapangan masih dijumpai kondisi kelas yang belum ideal seperti papan tulis yang sudah bolong-bolong, alat kebersihan tidak ada, bahkan kondisi kamar mandi yang kurang layak. Anak didik terkadang juga masih perlu mendapatkan perhatian mulai dari cita-citanya yang ketika ditanya hanya ingin menjadi supir truk, kuli bangunan. Mereka tidak salah, karena proses penentuan cita-citanya berdasarkan pekerjaan yang ada di sekelilingnya. Perhatian lain pada atribut anak seperti alat tulis, seragam, bahkan kondisi psikologisnya. Memang ada sekolah dengan peserta didik yang berkebutuhan khusus, namun dari pihak sekolah belum menerapkan pendidikan inklusi. Yang terjadi adalah guru kesulitan dalam mengajar yang sesuai dengan karakteristik anak.

Dari proses pengamatan itulah akan muncul inisiatif untuk turun tangan berkontribusi mengatasi masalah yang ada di sekolah. Meskipun tidak sepenuhnya mampu menyelesaikan semuanya, minimal ikut andil untuk berkontribusi. Barangkali ada relawan yang bidang pekerjaannya sesuai dengan permasalahan yang dialami sekolah. Sehingga dapat berperan dengan memberikan bantuan berupa materi atau nonmateri. Jika memang tidak ada bidang profesi yang relevan, para relawan tentunya memiliki inisiatif yang cemerlang untuk mengusahakannya. Jadi solusi yang ditawarkan tidak berupa materi atau bentuk fisik saja, bisa juga nonmateri meliputi pelatihan, seminar, workshop, keterampilan dan sebagaianya.

Gerakan follow up juga menjadi ajang untuk tetap memperkuat silaturahmi diantara pihak sekolah, anak didik dan relawan. Terkhusus bagi para relawan yang memang sudah disatukan dalam forum media sosial whatsapp, namun keaktifan grup biasanya bertahan kisaran 3 bulan. Tidak bisa dipungkiri karena jarak yang terkadang beda pulau kesibukan yang berbeda-beda. Makanya dengan pencingan akan ada kegiatan atau sekedar kopdar, baik berupa wacana atau realita dapat meramaikan kembali grup tersebut. Tidak jarang dalam grup ada candaan bahkan bullian yang terkadang malah menambah keakraban anggota. Makanya yang kita harapkan adalah semakin akrab, solid dan terus menjadi pecandu kelas inspirasi.

Pesan dari penulis bahwa “Peduli adalah solusi”. Ketika kita bukan seorang menteri yang mampu membuat kebijakan tentang kurikulum terbaik, ketika kita bukan hartawan yang mampu membekali modal anak cucu kita, serta ketika kita bukan pengusaha yang memberi peluang pekerjaan yang menjanjikan, namun kita mampu memberi inspirasi kepada anak. Inspirasi itulah yang akan memantik semangat mereka untuk berjuang menuju kesuksesan. Ketahuilah bahwa setiap anak itu cerdas, dan tugas kita adalah menstimulasi kecenderungan kecerdasan tersebut sesuai gaya belajarnya. Kelas inspirasi sebagai salah satu contoh model pembelajaran yang langsung menstimulasi semua kecerdasan yang ada pada anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>